Pembiayaan berkesinambungan

Kisah kami

Asian Development Bank

Investasi hemat energi

Pada tahun 2008, kita bermitra dengan Asian Development Bank dalam program jaminan kredit untuk mendukung proyek hemat energi sektor swasta kecil dan menengah di China.

Program Pembiayaan Multiproyek Hemat Energi membantu para pengguna energi di China untuk mengakses pembiayaan demi meningkatkan efisiensi energi pada gedung-gedung baru dan yang sudah ada. Program ini membiayai penyempurnaan gedung-gedung yang sudah ada, umumnya menghasilkan penghematan energi sebesar 20 - 40 persen. Mengingat urbanisasi berlangsung pesat di China, efisiensi energi yang lebih baik pada gedung-gedung akan menghasilkan penurunan substansial yang tahan lama dalam penggunaan energi dan emisi gas rumah kaca.

Atas

Pembangkit listrik tenaga surya Sinan, Korea Selatan

Proyek surya fotovoltaik terbesar di Asia

Ini merupakan proyek surya terkemuka di Korea dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Proyek ini mulai beroperasi dalam dua tahap selama tahun 2008, dengan kapasitas akhir yang mencapai 25MW. Pembangkit ini menghasilkan 33.000 MWh listrik setiap tahun - cukup untuk memasok 7.200 rumah dengan energi tanpa polusi dari tahun ke tahun. Proyek ini sendiri membantu Korea dalam menekan emisi karbon dioksida sebesar 24.000 ton per tahun - setara dengan menanam 168.000 pohon.

Atas

Bekerja sama dengan para nasabah di sektor minyak sawit untuk kinerja lingkungan dan sosial yang lebih baik

Minyak Kelapa Sawit yang Lestari

Sebagai anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) / Kesepakatan Minyak Sawit yang Lestari, Bank mengharapkan keanggotaan RSPO saat mengevaluasi nasabah dalam sektor ini. Dalam hal salah satu nasabah perkebunan kelapa sawit di Indonesia, kita menjadikan keanggotaan RSPO sebagai suatu prasyarat untuk menyalurkan pinjaman dan hal ini disertakan sebagai suatu kesepakatan dalam perjanjian pinjaman kita. Nasabah lain telah diminta untuk menyelenggarakan suatu Penilaian Nilai Konservasi yang Tinggi sebelum memulai penanaman baru, bahkan sebelum hal ini dijadikan persyaratan oleh RSPO pada bulan November 2008.

Atas

Standard Chartered dan tambang Rapu Rapu

Pada tahun 2005, Standard Chartered mewarisi suatu partisipasi kecil dalam pembiayaan proyek melalui akuisisi kita terhadap Korea First Bank. Seperti halnya sejumlah lembaga non pemerintahan, kita memiliki sejumlah kepedulian yang sama, dengan pembiayaan sebagai bagian dari suatu grup beranggotakan lima bank, dari salah satu proyek: suatu proyek pertambangan di Filipina bagi Lafayette Mining Limited.

Selama penyelenggaraannya, tambang Rapu Rapu dipengaruhi oleh sejumlah peristiwa lingkungan dan iklim, di antaranya tiga peristiwa angin topan dan dua kecelakaan pembuangan limbah tidak beracun ke aliran air pada akhir 2005. Pihak pemberi pinjaman juga semakin menyadari kurangnya keterlibatan masyarakat dan mekanisme keluhan yang tersedia untuk menangani masalah mata pencarian. Yang menambah kepedulian kita, pada saat pembiayaan, adalah bahwa proyek tersebut tidak memenuhi persyaratan modal untuk penerapan Prinsip-prinsip Ekuator. Mengingat taraf kepentingannya, kita bertindak dengan segera untuk menerapkan Prinsip-prinsip tersebut sejak kita mulai terlibat.

Lafayette, dengan dukungan para pihak penyedia pembiayaan, menerapkan sejumlah perubahan, di antaranya konstruksi sistem pengelolaan air limbah dan saluran drainase yang lebih baik dan dengan meningkatkan ketinggian waduk tailing (tailing dam) agar lebih melindungi masyarakat sekitar. Di samping itu, sejumlah program tindakan masyarakat juga mulai dilaksanakan.

Pada akhirnya kepailitan perusahaan tersebut menandakan bahwa banyak dari tindakan yang telah direncanakan yang tidak tercapai. Pada bulan Maret 2008, para pihak pemberi pinjaman proyek (termasuk Standard Chartered) menjual risiko utang mereka kepada pemegang saham 26% Proyek saat itu.

Akhir keterlibatan kita menimbulkan suatu dilema yang dihadapi oleh begitu banyak Bank-Bank Ekuator - Apakah pihak pemberi pinjaman memanfaatkan nasabah melebihi risiko pinjaman?

Prinsip-prinsip Ekuator tersebut menggantikan kemampuan suatu bank untuk menyempurnakan hasil akhir proyek melalui jaminan perlindungan spesifik bila suatu proyek tidak memenuhi kesepakatan lingkungan dan sosial yang disyaratkan. Di luar lingkup pengaruh kita, Bank-bank Ekuator berupaya untuk menjadi pihak yang mengedepankan pembiayaan berwawasan lingkungan yang kuat dengan menjangkau bank-bank lain dalam mendorong penerapan Prinsip-prinsip tersebut.

Pada tahun 2009, kita akan bekerja sama dengan berbagai lembaga keuangan di pasar kita termasuk China untuk mendorong penerapan Prinsip-prinsip tersebut dan membantu membangun kapasitas mereka dalam mengelola risiko sosial dan lingkungan dalam penyaluran pinjaman.

 
Atas